Apa Itu Umum? Penjelasan dan Contoh

Selamat datang di artikel kami yang membahas mengenai apa itu umum! Mungkin kalian pernah mendengar kata ‘umum’ di kehidupan sehari-hari, namun apakah benar-benar kalian memahami artinya secara mendalam? Nah, pada artikel kali ini kami akan memberikan penjelasan lengkap tentang apa itu umum beserta contohnya. Yuk, simak artikel ini sampai selesai!

Apa Itu Umum Penjelasan dan Contoh

Sejarah dan Tujuan DST

DST adalah ide yang diajukan oleh George Vernon Hudson, seorang ahli entomologi asal Selandia Baru pada tahun 1895. Dia mengusulkan untuk menggeser jam selama musim panas agar lebih banyak waktu siang yang terpakai di sore hari. Namun, praktik ini baru diadopsi secara global sejak Perang Dunia I, karena dianggap dapat menghemat konsumsi energi dan meningkatkan produktivitas kerja.

Tujuan DST adalah untuk memanfaatkan waktu siang dan mengurangi penggunaan cahaya buatan di sore hari. Dengan memajukan jam selama musim panas, orang-orang bisa memanfaatkan sinar matahari yang masih terang untuk melakukan kegiatan di luar ruangan. Selain itu, hal ini juga dianggap dapat menghemat energi listrik, karena orang tidak perlu menyalakan lampu di sore hari.

Namun, efektivitas DST masih menjadi perdebatan dan kontroversial. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak ada penghematan energi yang signifikan terjadi dan malah menimbulkan efek negatif seperti peningkatan tingkat kecelakaan lalu lintas dan gangguan pada kesehatan manusia.

Cara Kerja DST

Pada umumnya, DST diterapkan dengan cara memajukan jam satu jam ke depan pada awal musim panas dan mengembalikannya ke posisi semula pada akhir musim panas. Misalnya, di Amerika Serikat, DST dimulai pada Minggu kedua di Maret dan berakhir pada Minggu pertama di November.

Penerapan DST biasanya didasarkan pada zone waktu atau wilayah geografis tertentu. misalnya Amerika Serikat terbagi menjadi beberapa wilayah barat, tengah dan timur yang masing-masing berbeda waktu. Oleh karena itu, penerapan DST tidak dilakukan secara serentak di seluruh wilayahnya, melainkan disesuaikan dengan wilayah-wilayah tertentu.

Negara yang Menerapkan DST

DST diterapkan di beberapa negara di seluruh dunia, meskipun waktu penerapannya bisa berbeda-beda. Di Eropa, misalnya, DST dimulai pada Minggu terakhir di Maret dan berakhir pada Minggu terakhir di Oktober. Beberapa negara yang menerapkan DST di antaranya adalah Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Inggris, Jerman, Perancis, Australia, Brasil dan sebagainya.

Kontroversi Terkait DST

Banyak yang masih menyuarakan kontroversi terkait dengan DST sebagai praktik yang dianggap tidak efektif dan malah menimbulkan efek negatif pada manusia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa praktik ini dapat mempengaruhi kualitas tidur, karena pengaruh perubahan jam tidur mengakibatkan tubuh tidak dapat menyesuaikan diri dengan cepat.

Ada juga penelitian yang menunjukkan peningkatan tingkat kecelakaan lalu lintas pada periode penerapan DST. Hal ini dikarenakan adanya perubahan yang tiba-tiba pada pola tidur dan liburan akhir pekan yang membuat manusia menjadi kurang fokus dalam berkendara.

Namun, walaupun masih diperdebatkan, keputusan untuk menerapkan atau tidak menerapkan DST adalah kewenangan masing-masing negara. Sebagai individu, kita hanya bisa menyesuaikan diri dengan kebijakan yang ada dan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa selama periode DST berlangsung.

Secara keseluruhan, DST adalah praktik yang terus diperdebatkan efektivitasnya. Sementara beberapa negara masih menerapkannya dengan alasan ekonomi dan energi, yang lain memilih untuk tidak menerapkannya dengan mengutamakan kesehatan dan keamanan manusia.

Sejarah DST

Praktik DST atau Daylight Saving Time yang dikenal juga sebagai jam musim panas pertama kali diperkenalkan pada abad ke-20 oleh seorang pengusaha asal Selandia Baru bernama George Vernon Hudson. Pada tahun 1895, Hudson mengajukan proposal kepanitiaan Royal Society of New Zealand tentang perubahan waktu di mana waktu hari dimajukan selama empat jam pada bulan Oktober dan kemudian diubah kembali ke waktu semula pada bulan Maret. Hudson merupakan seorang entomologis atau ahli serangga, dan ia memerlukan waktu tambahan saat berkebun di sore hari.

BACA JUGA:   Syarif Hidayatullah merupakan nama asli dari?

Pada saat itu, Hudson tidak mendapatkan respon positif karena dianggap kontroversial dan baru pada awal tahun 1900-an praktik DST mulai digunakan di sejumlah negara, termasuk di Jerman dan Inggris. Pada saat Perang Dunia I, banyak negara yang mengadopsi praktik DST untuk menghemat energi dan bahan bakar. Amerika Serikat juga pertama kali mengadopsi waktu musim panas pada tahun 1918 sebagai bagian dari upaya perang.

Pada awalnya, DST hanya diterapkan pada musim panas, tetapi kini banyak negara yang mengadopsinya sebagai salah satu cara dalam menghemat energi dan memberikan lebih banyak waktu untuk aktivitas sosial dan rekreasi. Praktik DST sering digunakan di negara-negara di Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Sedangkan di Indonesia, praktik DST pernah diterapkan pada tahun 1948-1950 dan kembali diterapkan pada tahun 1964-1988.

Keuntungan DST

DST atau Daylight Saving Time atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Waktu Standar Musim Panas, adalah suatu sistem penyesuaian waktu yang digunakan di beberapa negara di dunia. Sistem ini dilakukan dengan cara memajukan waktu sesuai dengan waktu terbitnya matahari pada musim panas, atau sebaliknya memundurkan waktu saat musim dingin tiba.

Sistem DST telah diterapkan di berbagai negara selama puluhan tahun sebagai upaya untuk menghemat energi listrik dan meningkatkan produktivitas masyarakat. Dengan memajukan atau memundurkan waktu sesuai dengan kondisi matahari, maka aktivitas masyarakat diharapkan dapat lebih produktif dimulai dari pagi hingga malam hari.

Salah satu keuntungan DST yang paling terasa adalah penghematan energi listrik yang signifikan. Dengan memajukan waktu satu jam pada musim panas, maka waktu terang yang dimiliki akan lebih banyak. Hal ini dapat mengurangi penggunaan lampu pada malam hari dan menghemat penggunaan energi listrik yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lainnya.

Keuntungan lainnya dari DST adalah meningkatkan produktivitas masyarakat. Karena DST memajukan waktu, maka masyarakat akan memiliki waktu terang yang lebih banyak pada sore dan malam hari. Dengan waktu terang yang lebih banyak, maka masyarakat dapat melakukan aktifitas di luar ruangan seperti berolahraga, bersosialisasi dengan teman dan keluarga, atau melakukan aktivitas lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan mental.

DST juga memberikan keuntungan bagi sektor pariwisata dengan adanya peningkatan waktu terang, maka destinasi wisata akan lebih ramai dikunjungi oleh turis domestik dan mancanegara. Selain itu, adanya DST juga memberikan keuntungan bagi sektor perdagangan karena memperpanjang waktu operasional toko dan supermarket.

Namun, meski memiliki beberapa keuntungan, sistem DST ini juga memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan DST adalah dapat menyebabkan ketidaksesuaian waktu bagi masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan karena zona waktu yang berbeda. Selain itu, DST juga dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat karena perubahan jam tidur dan rutinitas sehari-hari.

Meskipun demikian, sistem DST masih tetap diterapkan di beberapa negara di dunia dan memberikan keuntungan bagi masyarakatnya. Dalam konteks Indonesia sendiri, pemerintah pernah mempertimbangkan untuk menerapkan DST, namun belum ada keputusan resmi mengenai penerapan sistem DST di Indonesia.

Kritik terhadap DST

Daylight Saving Time (DST) atau waktu musim panas seringkali menjadi topik yang kontroversial. Terdapat beberapa orang yang memberikan kritik terhadap DST karena beberapa alasan. Berikut adalah beberapa kritik terhadap DST:

1. Menimbulkan kebingungan

DST seringkali membuat orang kebingungan. Hal ini terutama terjadi pada seseorang yang sedang bepergian dan tidak mengetahui apakah ada perubahan waktu pada wilayah tersebut. Misalnya, seorang wisatawan datang ke negara lain dan tidak menyadari bahwa DST di negara itu telah dibatalkan, sehingga ia ketinggalan atau terlalu cepat dalam janji pertemuan atau kegiatan yang dijadwalkan.

Selain itu, DST juga membuat perangkat-perangkat elektronik seperti jam tangan, jam dinding, dan jam alarm menjadi membingungkan dan tidak otomatis terpasang. Hal ini bisa menyebabkan keterlambatan atau ketidakhadiran pada suatu acara atau pekerjaan apabila orang tersebut tidak menyadari adanya perubahan waktu.

BACA JUGA:   Zaman kebodohan disebut juga zaman?

2. Mengganggu jam biologis

Perubahan waktu selama DST juga dapat mengganggu jam biologis seseorang. Ketika waktu diubah selama DST, terdapat kemungkinan bahwa orang akan kehilangan satu jam tidur. Kehilangan satu jam tidur dapat membuat orang merasa lebih lelah dan terganggu dalam jadwal tidur mereka.

Terkadang, perubahan waktu juga dapat berdampak pada kesehatan. Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang mengalami perubahan waktu selama DST mengalami peningkatan risiko serangan jantung, masalah kesehatan mental, dan bahkan kematian.

3. Menyebabkan peningkatan kecelakaan lalu lintas

Beberapa orang juga mengkritik DST karena dapat menyebabkan peningkatan kecelakaan lalu lintas. Saat terjadi perubahan waktu selama DST, cahaya matahari pada pagi hari akan terasa lebih terang, sedangkan pada sore hari akan lebih gelap.

Saat orang yang mengemudi berangkat ke tempat kerja pada pagi hari saat DST, cahaya terang dapat mengganggu visi, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Sementara, pada malam hari saat pulang kerja, cahaya yang gelap dapat membuat pengemudi kurang waspada dan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

4. Membutuhkan biaya ekstra

Terakhir, penghapusan dan penerapan DST dapat membutuhkan biaya tambahan bagi pemerintah dan bisnis. Perubahan waktu selama DST memerlukan waktu dan tenaga bagi pihak-pihak yang terkait, termasuk pemerintah dan bisnis.

Pemberitahuan perubahan waktu juga harus disosialisasikan kepada masyarakat, dan perangkat-perangkat elektronik yang terkait harus diperbarui atau disetel ulang. Hal ini dapat memakan biaya dan waktu.

Sekian beberapa kritik terhadap DST. Baik kelebihan maupun kekurangan DST tetap menjadi perdebatan hingga kini.

Negara yang Melakukan DST

Adopsi kebijakan Daylight Saving Time (DST) tidaklah terbatas pada suatu negara tertentu saja. Sebaliknya, lebih dari 70 negara di seluruh dunia telah menerapkan DST sebagai upaya untuk menghemat energi di musim panas. Beberapa negara yang menerapkan DST antara lain Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan sebagian besar negara di Eropa. Di Indonesia, kebijakan DST belum diterapkan secara resmi meskipun pernah diusulkan pada tahun 2011 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Amerika Serikat adalah salah satu negara yang paling populer dalam menerapkan kebijakan DST. Setiap tahunnya, DST dimulai pada Minggu kedua bulan Maret dan berakhir pada Minggu pertama bulan November. Selain Amerika Serikat, Kanada juga menerapkan DST di seluruh wilayahnya kecuali di provinsi Saskatchewan. Australia juga menerapkan DST mulai pertengahan September sampai pertengahan April.

Sementara itu, sebagian besar negara di Eropa mulai menerapkan kebijakan DST di sekitar tahun 1970an atau 1980an. Negara-negara di Eropa Barat seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol menerapkan DST dengan jangka waktu yang sama dengan Amerika Serikat dan Kanada. Namun, negara-negara di Eropa Timur seperti Rusia dan Belarusia belum menerapkan kebijakan DST saat ini.

Beberapa negara di Asia juga menerapkan kebijakan DST, meskipun jumlahnya terbatas. Tiga negara di Timur Tengah yang menerapkan DST antara lain Uni Emirat Arab, Yordania, dan Suriah. Sementara itu, di Asia Tenggara, Singapura dan Malaysia juga menerapkan kebijakan DST.

Sementara itu, beberapa negara di Amerika Selatan seperti Brazil dan Argentina ternyata tidak menerapkan kebijakan DST. Demikian pula dengan negara di Afrika yang mayoritas tidak menerapkan kebijakan DST, meskipun beberapa negara seperti Mesir dan Libya sempat-menyepat menerapkannya pada masa lalu.

Secara umum, menerapkan atau tidak menerapkan DST merupakan keputusan yang harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati karena terdapat beberapa keuntungan dan juga kerugian yang bisa didapatkan. Beberapa negara yang telah menerapkan DST terbukti dapat menghemat energi yang cukup signifikan dan membantu mengurangi penggunaan sumber daya fosil. Namun, di sisi lain, beberapa survei juga menunjukkan bahwa waktu transisi saat dimulainya dan berakhirnya DST dapat memengaruhi kesehatan manusia dan menyebabkan banyak gangguan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, kebijakan DST perlu dipertimbangkan secara matang dan dilakukan pengukuran yang teliti atas manfaat dan kerugiannya.

Artikel Terkait